SATU



SATU

“Es coklat di tempat ini memang tiada duanya”
“Benar, seperti biasa, kau hebat sekali menemukan tempat seperti ini, Asahi!”
“Yosh. Untuk urusan seperti ini, serahkan saja padaku!”
“Apa susahnya mencari cafe dengan petunjuk yang sudah jelas!”
“Apa maksudmu Akasi?”
“Bukankah sudah jelas, kau hanya diminta oleh yang lainnya untuk menemukan cafe yang berada di antara rumah kita masing-masing dan dekat dengan sekolah kita yang baru. Sebisa mungkin cafe itu harus bisa menjadi titik temu kita berlima karena cafe itu akan kita jadikan sebagai tempat bertemu setiap pagi sebelum pergi kesekolah, dan berkumpul setiap malam sebelum pulang kerumah. Siapapun bisa menemukan tempat seperti itu Asahi!”
“Kalau begitu, kenapa bukan kau yang mencarinya?”
“Kalau aku sih malas, kau saja yang terlalu rajin mencari tempat-tempat seperti ini. Pasti kau berharap agar teman-teman memuji hasil kerja kerasmu menemukan tempat ini kan? Dan asal kau tau saja, pujian yang diberikan Shogi dan Akai itu hanya untuk membuatmu senang. Mereka tidak tulus ketika memujimu tadi!”
“Hah. Benarkah Shogi, Akai?”
“Tidak, tidak, aku sangat tulus, entah kalau Akai”
“Oh, aku juga sangat tulus, Asahi!”
“Tapi tidak usah dipermasalahkan Asahi, kau sangat kenal Akasi kan? Dia itu memang sangat sulit untuk mengucapkan terimakasih pada seseorang. Tidak usah diladeni, biarkan saja!”
“Tapi Shogi dan Akai memang benar, Es Coklat disini cukup nikmat dan harganya juga tergolong murah, kali ini aku tidak sependapat dengan Akasi karena aku sendiri tidak yakin akan memilih cafe ini diantara banyak cafe disekitar sini”
“Yoshaa... Benarkan Taro? Kau lihat Akasi, sudah tiga orang. Tiga lawan kau sendirian, aku menang”
“Sejak kapan ini kita jadikan ini sebagai pertarungan untuk menentukakan menang dan kalah!”
“Sudalah, mari makan!”
Mereka adalah lima orang sahabat yang telah berteman sejak kelas satu SMP. Esok mereka akan mulai masuk ke SMA dan pertemuan malam ini adalah untuk menentukan tempat berkumpul mereka setiap kali pergi dan pulang sekolah. Mereka baru saja sampai, cafe ini hanya berjarak sekitar lima menit berjalan kaki dari sekolah. Ini akan menjadi markas mereka untuk berkumpul. Dulu, ketika SMP pun demikian, mereka menemukan toko yang juga menjadi markas mereka untuk saling berkumpul, memperdalam rasa persahabatan mereka masing-masing.

“Aku sudah tidak sabar untuk masuk ke tim voli sekolah kita”
“Oh ya, kudengar tim voli SMA kita itu pernah masuk kejuaran nasional?”
“Benar, tapi itu sudah sangat lama, sekitar sepuluh tahunan yang lalu”
“Kali ini tim voli tidaklah terlalu hebat!”
“Tapi akan sangat hebat ketika aku masuk Akasi!”
“Memangnya kau sehebat itu Asahi?”
“Kenapa kau selalu saja menggangu Asahi, Akasi?”
“Aku tidak mengganggu, aku hanya menyampaikan fakta saja!”
“Fakta? Kau tau kalau Asahi adalah spiker yang hebat, dia pernah merasakan kejuaran nasional ketika kelas tiga SMP!”
“Ah, itu pasti hanya kebetulan!”
“Sudahlah, kau malu mengakui kehebatanku kan?”
“Hebat itu seperti Shogi, berhasil menjadi juara tiga tingkat nasional. Kalau hanya masuk kejuaran nasional, tahun ini aku pasti akan masuk!”
“Hei, sepertinya aku akan berhenti bermain bola dan bergabung dengan klub membaca saja!”
Perdebatan Akasi dan Asahi berhenti. Kali ini mereka sedang memandang Akai, teman mereka yang sangat menyukai sepak bola namun sangat kesulitan untuk masuk menjadi pemain inti ketika bergabung di klub sepak bola sewaktu SMP.
“Kalian tau, di SMP aku hanya berhasil bermain satu kali. Sial sekali, itupun aku masuk karena pemain inti sedang cedera dan pemain cadangan tidak hadir. Tiga tahun, aku hanya bermain satu kali. Bukankah itu sangat buruk?”
“Apa maksudmu, Akai. Bukankah kau menyukai sepak bola?”
“Asahi, berhentilah berpikir bahwa kita sedang berada di dalam sebuah anime”
“Apa maksudmu, berhentilah bercanda Akasi, aku tau kau suka sekali menggodaku. Tapi lihatlah, pembahasan ini sedang serius”
“Semua tau ini serius, dan berhentilah berpikir bahwa kita sedang berada di dalam sebuah anime, dimana selama kita menyukai olahraga maka  cepat atau lambat kita akan berhasil. Selama tidak menyerah, kita akan berhasil. Kadang hal seperti itu tidak ada dalam kehidupan nyata”
“Tapi tidak seperti itu juga!”
“Akasi benar, Aku mungkin memang menyukai sepak bola..”
“Kalau begitu cukup!”
“Biarkan dia menyelesaikan kalimatnya dulu, Asahi!”
“Haha. Kalian memang sangat serasi Akasi, Asahi!”
“Mengapa Akai?”
“Tidak ada alasan lain, aku mungkin menyukai sepak bola. Tapi aku tidak handal memainkannya. Itu sama seperti jutaan orang di dunia yang menggilai sepak bola namun gagal untuk menjadi atletnya. Mereka hanya menjadi penikmat permainan, menonton, bersorak, mengomentari. Senang ketika tim kesayangan menang, marah ketika tim kesayangan kalah. Itulah, mungkin aku akan berhenti bermain bola, ikut klub lain seperti klub membaca atau bahkan mungkin tidak ikut kegiatan klub sama sekali. Tapi kalian tenang saja, aku akan tetap menunggu kalian selesai dari kegiatan klub untuk bertemu di tempat ini setiap malamnya. Kalian adalah sahabatku yang terbaik”
“Tapi Akai.....”
“Biarkan dia dulu. Dia belum selesai!”
“Tiga tahun aku bermain sepak bola di SMP. Taro pasti tau benar bagaimana persaingan di klub sepak bola SMP kami. Memang, klub sepak bola setiap tahunnya menerima anak baru dengan jumlah yang cukup banyak. Banyak sekali peminat olahgara yang paling populer di dunia itu. Semakin banyak orang, semakin besar persaingan. Persaingan sesama anak kelas satu saja sudah cukup sulit, belum lagi persaingan dengan para pemain cadangan dan pemain inti. Oh, untuk masuk tim inti sangatlah sulit di klub sepak bola, itu masih tim tingkat SMP. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana persaingan tim tingkat SMA”
“Menurutku tidak seperti itu Akai”
“Tidak, tidak Asahi. Aku tau apa yang akan kau katakan, tapi siapa pula atlet yang tidak ingin memenangkan kejuaraan. Siapa pula pemain bola yang tidak ingin diturunkan dalam pertandingan, siapa pula atlet yang akan merasa cukup berada di tim kedua. Siapa pula atlet yang akan bertahan dan terus berusaha pantang menyerah hanya untuk berada di tim kedua?”
“Banyak, banyak sekali orang yang seperti itu yang kemudian berhasil mengambil masanya sendiri dan masuk ke dalam tim utama. Tidak, bukan hanya masuk ke dalam tim utama, tapi juga menjadi yang terbaik diantara yang lainnya”
“Taro. Bagaimana menurutmu, kau juga pemain sepak bola, kalian berada satu tim selama SMP!”
“Taro sungguh pengecualian. Dia pemain sayap yang hebat!”
“Entahlah, aku tidak bisa mengkomentari hal seperti itu”
“Sungguh, aku menyesal bertanya padamu. Setidaknya berikanlah jawaban yang memadai, Taro!”
“Tidak masalah, kita semua tau bahwa Taro adalah yang paling pendiam diantara kita berlima!”
“Aku akan  mengambil julukan itu nantinya, Akai?”
“Benarkah? Bagaiaman menurutmu Shogi?”
“Aku? Aku tidak tau pasti apa yang harus ku katakan. Itu semua tergantung padamu, aku hanya bisa katakan bahwa apapun keputusanmu, sebagai sahabat aku akan mendukungmu. Kau tau, aku tidak seatletis kalian. Aku lari pagi khusus untuk menjaga kesehatanku saja. Aku juga tidak tau benar bagaimana rasanya ikatan tim. Kalian tau sendiri, dalam catur kami bermain individu. Aku memenangkan lombaku sendiri, teman tim hanya menjadi teman berlatih  selama di sekolah. Ya, seperti itulah kira-kira. Bahkan diantara kami ada yang sangat gendut tapi jago sekali bermain catur. Menurutku, dalam catur aku tidak perlu berlatih keras, aku hanya perlu berpikir keras dan melakukan simulasi atas strategi-strategi pertarungan”
“Tapi aku tidak mau kau meninggalkan sepak bola, Akai!”
“Apa kau ingin menanggung beban yang akan di tanggung oleh Akai selama ia gagal masuk menjadi tim utama, Asahi?”
“Tidak, jika kau mencintai sepak bola. Itu sudah cukup, kau tidak perlu menjadikan Taro sebagai tolak ukur keberhasilan sepak bolamu. Kita tau benar bahwa Taro memang pemain yang hebat, tahun lalu dia menjadi pemain terbaik di tingkat kota dan berhasil menjadi juara di tingkat provinsi hingga masuk ke kejuaran nasional. Dia adalah Kapten yang baik. Tapi, keberhasilan tiap orang berbeda-beda. Aku yakin kau hanya belum menemukan jalur keberhasilanmu. Namun percayalah, semua orang yang berhasil di bidangnnya masing-masing menyukai apa yang dikerjakannya, mencintai apa yang dilakukannya. Makanya, selama kau menyukai sepak bola, selama kau tidak menyerah untuknya, jalan keberhasilanmu akan terbuka, percayalah!”
Lima remaja itu terdiam. Akasi tidak lagi menyanggah apa yang dikatakan oleh Asahi. Sebagai orang yang menyukai olahraga, mereka berlima sebenarnya paham betul apa yang disampaikan oleh Akasi. Tidak ada diantara mereka yang langsung mencapai titik tertinggi dalam olahraga. Taro yang paling sukses diantara mereka berlima pun dulunya hanya pemain cadangan selama kelas satu SMP. Begitupun Akasi, sebagai pemain basket ia pasti tidak terlalu paham dengan persaingan yang disampaikan oleh Akai. Tim basket tidak pernah ramai, setiap tahun hanya sekitar lima sampai enam orang anak baru yang masuk. Ia pemain yang rata-rata, kadang dimasukkan dalam pertandingan, kadang tidak. Di SMP, timnya paling hebat pernah masuk semifinal tingkat kota. Selain itu tidak ada, sebagai pemain basket Akasi tidak lah populer.
“Menurutku, kau hanya harus tetap bermain sepak bola, Akai!”
“Taro?”
“Bagaimana mungkin aku bisa bertahan di klub sepak bola, jika tidak ada kau yang menemaniku? Bukankah selama aku menjadi kapten tim ketika di SMP, aku selalu berkonsultasi denganmu? Aku tidak mungkin bisa menampakkan kelemahanku di hadapan pemain lain. Dan kau, adalah orang yang selalu menemaniku menghadapi masa-masa sulit. Seperti yang dikatakan Asahi, selama kau tidak menyerah, kau adalah pemain sepak bola terhebat. Kita akan bermain bersama tiga tahun ke dapan, berlatih dan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik”
“Taro...”
“Tapi, aku yakin Taro juga ingin menyampaikan kepadamu bahwa apapun yang kami sampaikan  kepadamu hari ini bukanlah untuk memaksamu melakukan apa yang tidak ingin kau lakukan. Kami tidak ingin, ketika nanti kau terus gagal dalam sepak bola lantas kau membenci kami...”
“Akasi...”
“Akasi benar, kami ingin agar kau tetap bermain sepak bola. Namun segalanya menjadi keputusanmu. Kami akan mendukung apapun yang akan kau ambil”
“Ini masa SMA, mari bersenang-senang, Akai!”
Taro mengepalkan tangannya ke arah Akai yang tepat di depannya, tos. Akai tersenyum, membalas tos yang diberikan Kapten Tim Sepak Bola SMP nya itu. Kemudian, tos itu juga disambut oleh Asahi dan Shogi.
“Kau tidak mau ikut tos, Akasi?”
“Oh, kalian tau aku tidak menyukai hal-hal seperti ini”
“Ayolah”
Dan akhirnya, Akasi turut mengepalkan tangan.

Komentar