Ku Pikir Kau Setia
Eza Budiono
Kupikir
kau setia. Ketika kau berjanji tak akan menyakiti, aku percaya. Kupikir kau
setia. Ketika kau berjanji tak akan bermain hati dengan yang lain, aku percaya.
Kupikir kau setia, ketika kau katakan aku satu-satunya wanita yang kau cinta,
aku berbunga-bunga langsung percaya.
Ternyata
kau pendusta. Kau berbohong dengan semua janji yang telah kau ucapkan. Ternyata
kau pendusta, ketika akhirnya semua janji itu ternyata buah bibir untuk
memuluskan jalanmu mendekatiku, jalanmu mengambil hatiku, jalanmu untuk
membuatku yakin kau satu-satunya yang pantas memimpinku.
Aku
sungguh tak mengerti dengan dirimu, sejak aku resmi memilihmu dan kau resmi
menjadi kekasihku kau langsung berubah, langsung tak perduli. Kau datang hanya
saat kau butuh saja dan itupun selalu dengan keinginan-keinginan aneh yang tak
masuk akal. Saat aku tak kunjung memenuhi keinginanmu, kau langsung lupa akan
janji-janji manis yang kau ucapkan saat masa pendekatan itu. Ah kamu. Kamu lupa
atau memang pendusta.qvd
Sebentar
lalu, aku mencoba kembali menghubungimu. Kau berjanji untuk menjeputku dari
kampus, sore ini. Tapi nyatanya apa, BBM, WA, Line dan semua sosial mediamu
Off. Aku mencoba menelphonmu. Tak pernah diangkat, seolah kau sedang tertidur
tak terdengar deringnya.
Belakangan
aku tau, kau sedang dengan perempuan lain. Entah dia yang pertama aku yang
kedua atau aku yang pertama dia yang kedua atau kami berdua bukan yang pertama.
Data selularmu kau matikan agar pesanku seolah-olah “Pending” Handphonemu juga
tetap aktif tapi kau tak mau mengangkat setiap telphone seolah-olah kau sedang
tertidur. Benar saja, setelah pulang dari “Kencan” mu itu kau akan mengirim
pesan kepadaku “Maaf aku ketiduran”. Basi.
Sebantar
lalu, setelah semua ucapan maafmu kuterima-Aku pun tak mengerti mengapa aku
terlalu buta melihat semua sandiwaramu, melihat semua pencitraan yang kau
lakukan didepanku- kau menjanjikan untuk datang kekosku. Ingin berjumpa, kencan
mungkin namanya. Aku sudah memilih pakaian terbaikku, lelah menunggu. Kau tak
kunjung datang. Lelah menghubungi, tapi tak kunjung ada jawaban.
Setelah
beberapa hari baru aku tau, ternyata satu hari sebelum kita berjanji untuk
bertemu di kosku, kau telah menebar benih janjimu kesalah seorang teman
sekosku. Yah. Bagaimana mungkin kau berani menunjukkan wajah sedang usahamu
mendekati dia sedang dalam proses yang membahagiakan. Perempuan itupun memang
perempuan jalang. Seharusnya dia bertanya padaku, kejelasan status hubungan
kita dan tidak langsung percaya dengan ocehanmu yang mengatakan kepadanya bahwa
kita sudah tidak ada hubungan apa-apa.
Kupikir
kau setia. Kupikir kau berbeda dari laki-laki yang datang kepadaku
sebelum-sebelumnya. Kesibukanmu yang memang banyak selalu menjadi alasan kau
terlambat membalas smsku, statusmu yang Aktivis kampus itu selalu menjadi
tameng untuk tidak datang ketempatku. Yah. Itu alasan yang kadang-kadang tak
masuk akal.
Kemarin
saja, ketika kau lagi-lagi tak kunjung datang menjeputku. Pengakuanmu alasannya
rapat mendadak membicarakan BEM. Ah kamu, benar ya ada rapat dadakan-dadakan
seperti itu, seperti mengurus negara saja. Setelah itu kau selalu pergi
kesana-kemari, ke kampus yang ini ke kampus yang itu. Aku pikir itulah
kesibukanmu sebagai Aktivis Organisasi Mahasiswa dengan jabatan tinggi. Tapi
ternyata, disana kau juga sedang menebar benih-benih janji manismu untuk
Mahasiswi-Mahasiswi cantik di tiap kampus yang kau singgahi. Jelas saja kau
menyukai kegiatan-kegiatan seperti itu, jelas perempuannya apalagi ketika satu-dua
berhasil kau dapatkan kasih sayangnya.
Lama-lama
kau seperti para pejabat negara saja. Menjual jabatan yang sedang dimilikinya
untuk mendapatkan penyanyi-penyanyi Sexy atau wanita-wanita muda lainnya.
Lama-lama
kau seperti pejabat negara saja yang omongannya tak lagi bisa dipercaya. Sebentar
kau katakan aku tak bisa hidup tanpamu, lalu sebentar lagi kau berpura merajuk berkata
aku tak apa kau tinggalkan. Ah, entahlah. Kau tak tetap pendirian. Seperti
pejabat negara saja.
Tingkahmu
juga lama-lama seperti mereka, turun naik seperti harga BBM sekarang ini.
Kadang kau bergitu romantis tapi langsung berubah dingin ketika permintaanmu
untuk dikirimi photo sexyku tak pernah bisa kuturuti. Kau gila ya, aku tak
serendah itu.
Tingkahmu
juga lama-lama seperti pejabat Negara saja, sebentar terbang kesini-terbang
kesana. Katanya sih Diplomasi. Ternyata kau mencari wanita yang bisa dijadikan
simpananmu. Mungkin sebagian mereka telah berhasil kau minta apa yang tak kau
dapatkankan dariku.
Lama-lama
kau seperti pejabat negara saja. Sebentar berjanji kemudian lupa akan janjinya
ketika sudah terpilih. Ah iya, padahal kau adalah seorang aktivis yang sering
menuntut janji manis dari pejabat negeri terpilih. Ternyata, kau juga tak
mengerti arti setia. Sama dengan pejabat negara kita.
Ku
pikir kau setia, dengan janji yang pernah kau ucapkan. Kupikir kau setia dengan
janji yang pernah kau uraikan. Kupikir kau setia dengan semua tingkah laku
sederhanamu selama ini. Ternyata, setelah aku memilihmu, setelah aku menerimamu,
kau langsung berubah. Terlebih ketika aku tak bisa memenuhi permintaan
kekanak-kanakanmu meminta photo tanpa busanaku. Kau gila. Sungguh, tak pernah
kusangka engkau begini.
Cukup
sudah sandiwara kegilaan ini kita lalukan. Setelah sekian lama ini aku
terbodohi dengan janji-janji dan alasan tak terpenuhnya janji darimu. Kini aku
harus sadar bahwa kau bukan lelaki terbaik untuk dijadikan pemimpin dalam
hidupku. Aku pergi, maaf. Aku bukan bagian dari hidupmu lagi. Sekali lagi,
Kupikir kau setia.
Komentar
Posting Komentar