Patah Hati (Eza Budiono)

Patah hati



Dengan mata sayu ia menatap ke luar jendela kamarnya. Ia baru saja menangis semalaman, matanya merah karena tidak cukup tidur. Wajahnya begitu kusut, dunianya hancur. Sesekali ia mencoba mengatur nafasnya yang terasa tinggal sepotong-sepotong. Dipejamkannya matanya, meresapi makna hidup yang sedang dijalaninya. Meresapi cinta yang telah ia pelihara selama enam tahun belakangan. Ia hari ini, begitu patah hati. 

Pasalnya, gadis cantik yang dia cintai selama enam tahun belakangan ini akan menikah hari ini. Perempuan yang begitu dicintainya itu akan menikah di sebuah masjid megah di kota sebelah. Perempuan yang menjadi cinta pertama dan satu-satunya itu akan menikah dengan seorang laki-laki yang tak pernah ada sebelumnya. Lelaki itu baru saja datang, paling-paling hanya setahun belakangan ini. Namun ternyata setahun yang dimilikinya lebih mampu meyakinkan Riasya untuk memilihnya daripada enam tahun yang dimiliki Alvin.

Kini Alvin tidak lagi memandang keluar jendela. Ia sudah berbaring, tatapannya kini mengarah kepada satu stel pakaian baru di dinding kamar 3 x 4 nya. Pakaian itu dijahitkannya sekitar dua minggu yang lalu ketika pertama kali Riasya mengatakan akan menikah dengan Darman. Demi mendengar kalimat itu, demi berusaha menunjukkan bahwa ia sangat kuat, Aldi menempahkan sebuah pakaian terbaik untuk dipakai ke acara pernikahan Riasya.

“Kau akan datang kan, Vin?”

“Tentu saja aku datang, Sya”

“Cinta tidak bisa dipaksakan, Vin. Maafkan aku yang tidak bisa menerimamu. Tapi, jika aku boleh meminta. Sebagai orang yang paling dekat denganku selama enam tahun ini. Aku berharap engkau hadir di pernikahanku nanti!”

“Tenang, aku ini pecinta profesional Sya. Aku akan datang dengan kondisi terbaik untuk hari pernikahanmu nanti!”

Itulah janji Alvin. Janji yang diucapkannya dengan hati yang sangat hancur. Benar saja memang, pernikahan Riasya kurang lebih empat jam lagi. Namun kondisi Alvin sangatlah buruk. Ia terluka, tersungkur di atas kasur memandang dengan nanar pakaian terbaik yang sudah ditempahkannya itu. Tangisnya kembali pecah. 

Enam tahun ia menjaga cinta ini. lima kali ia mengucapkan cinta kepada Riasya. Lima kali ia ditolak, lima kali ia bertahan untuk tetap bersama Riasya walau tanpa hubungan apapun. Tapi kali ini, semua pertahanan yang dibangun berdasarkan keyakinan bahwa Riasya akan terbiasa sehingga menerimanya telah hancur berkeping-keping. Alvin tampak seperti seorang pesakitan yang tak mungkin lagi diselamatkan. 

Sejak Riasya menyampaikan rencana pernikahannya itu kepada Alvin, ia langsung hancur. Dirinya langsung seperti seorang yang tak terurus. Keinginannya untuk melakukan sesuatu langsung hilang ketika mengingat hari pernikahan Riasya yang kian dekat. Dalam dua minggu ini bahkan Alvin sudah tidak masuk kerja selama empat hari. Surat peringatan dari atasan sudah ia dapatkan. Tapi Alvin tidak peduli. Ia benar-benar telah hancur. 

Alvin tak pernah mengenal cinta kecuali itu Riasya
Alvin tak pernah mengenal rindu keculali itu Riasya
Alvin tak pernah mengenal pesona keccuali itu Riasya
Riasya adalah cinta pertama dan satu-satunya.

Kali ini Alvin membenamkan wajahnya ke bantal. Mencoba berteriak, air matanya semakin banyak mengalir. Lukanya semakin tak tertahankan. Alvin kini berisak. Betapa jahatnya takdir yang tidak menyatukan mereka. Betapa jahatnya Tuhan yang hanya memberikan kepadanya rasa cinta tapi tidak memberikan rasa yang sama kepada Riasya agar cinta yang dibangunnya itu berbalas. Alvin benar-benar mengutuki setiap hal saat itu. Tidak ada yang benar dalam pandangan orang yang sedang patah hati. 

Dalam tangisnya, ia mulai tertidur dan bermimpi.

Hari itu untuk pertama kalinya Alvin jatuh cinta. Gadis itu Riasya. Perempuan cantik yang kebetulan duduk disampingnya ketika ospek penerimaan mahasiswa baru. Hari itu, perempuan cantik ini yang memulai perbincangan dengan Alvin. Anak laki-laki pemalu yang biasanya tidak diajak orang untuk ngobrol

“Para senior ini sok hebat. Lihat saja nanti, pasti mereka akan menjahili perempuan-perempuan cantik yang sok-sok mentel. Disuruh nyanyi lah sambil ketawa-ketawa. Ospek ini adalah ritual yang sangat aku benci dari dulu”

“Kau dari tadi, kuajak ngobrol diam saja. Kau ini pemalu, ya?”

“Tidak, aku hanya tak tau harus menanggapi apa!”

“Ya tanggapi saja, apa saja. Oiya, siapa namamu?”

“Alvin”

“Riasya”

Lalu mereka mulai berbincang, setelah itu ternyata mereka satu kelas. Mereka berteman dekat. Benar saja kata orang-orang, tidak ada persahabatan tulus dari seorang lelaki kecuali akan menghasilkan cinta. Alvin jatuh cinta, hingga hari ini. 

Setelah itu, Riasya lah yang membuat Alvin menjadi lelaki pemberani. Alvin yang biasanya adalah pemalu menjadi terbiasa untuk berbicara dengan orang lain. Riasya meyakinkan kepada Alvin bahwa tidak perlu harus malu berbicara dengan siapapun.

“Kita hanya harus malu kalau kita berbicara tidak pada tempatnya, Vin. Oleh sebab itu kau hanya harus memastikan bahwa apa yang akan kau ucapkan tepat dan pas serta sesuai dengan kondisinya!”

Cinta itu kian tumbuh.

Aldi terbangun satu jam sebelum pernikahan Riasya dimulai. Ia bangkit, seburuk apapun keadaannya, ia harus tetap menghadiri pernikahan Riasya. ponselnya berdering. Riasya memanggil.

“Halo Alvin. Kau kemana saja, aku sudah menelponmu puluhan kali!”

“Maaf Sya, aku ketiduran. Ini aku mau mandi. Tenang saja, aku akan sampai ke sana!”

“Kau baik-baik saja, Vin?”

“Tidak, aku tidak baik-baik saja. Maafkan aku, aku tidak bisa hadir dalam kondisi terbaik, tidak mungkin. Aku tidak mungkin bisa hadir dalam kondisi terbaik sedangkan hatiku hancur berantakan. Tapi aku akan hadir. Aku akan menyaksikan pernikahanmu hari ini!”

“Maafkan aku, Vin!”

“Tidak, kau tidak perlu meminta maaf. Mencintaimu adalah hakku, mencintai Darman adalah hakmu. Membalas cintaku bukan kewajibanmu. Maka tidak perlu ada yang harus meminta maaf!”

“Tapi...

“kau harus bersiap, aku juga akan bersiap. Aku akan hadir. Selamat menikah, Riasya Indriani!”

Lalu Alvin mematikan ponselnya. Ia membersihkan diri. Mencukur habis brewok yang dua minggu ini memenuhi wajahnya. Rambutnya yang panjang disisir dan diberi minyak sehingga tampak rapi. Ia memakai pakaian terbaiknya yang sudah disipakannya sejak dua minggu belakangan. Matanya yang kurang tidur memang tidak bisa dihilangkan, tapi dengan senyumnya, tak akan ada orang yang peduli tentang itu. 

Cinta bukan perkara antara aku dan engkau
Cinta itu adalah hak yang dimiliki oleh hati
Kita hanya perlu mendidiknya agar ia besar atau ia kecil
Jika engkau berpikir bahwa cinta selamanya adalah persatuan
Maka engkau akan terus berada dalam tangisan keputusasaan
Cinta adalah rasa
Yang entah bagaimana caranya
Tiba-tiba sudah bercokol di hati.
Dan ketika engkau tak ingin membuangnya
Walau tak lagi bersama
Walau tak bisa bersatu
Ia tetaplah cinta.

Pernikahan Riasya dan Darman berjalan dengan sangat baik. Jika kau mengharapkan kisah ini berakhir dengan Riasya membalik badan lalu memeluk Alvin dan membatalkan semua urusan pernikahan dengan Darman, maka kau tak akan menemukannya. 

Dengan gaun berwarna merah yang dikenakannya. Riasya tampak sangat cantik. Alvin tak habis-habis tersenyum menatap cantiknya bidadari yang telah menempati hatinya itu. Alvin tak peduli dengan teman-temannya yang mengejek dan menggodanya. Yang Alvin pedulikan adalah Riasya. Ia harus tampak bahagia dihari itu agar Riasya juga bahagia. 

Cinta yang paling besar adalah ketika kita mampu bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia. Ah. Bukankah itu terkadang hanya omong kosong?

“Vin, kau duluan lah ke pelaminan. Kasi selamat sama Riasya!” Teman-teman semakin mengejek Alvin.

Alvin berjalan menuju ke singgasana Riasya dan Darman. Ia mengucapkan selamat kepada keduanya. Alvin masih berdiri dengan kuat. Hatinya memang sangat sakit, namun ia tau bahwa ia harus tegar demi Riasya. Alvin memeluk Darman lama sekali. Darman tampak bingung, Riasya menundukkan kepala tak berani menatap.

“Selamat, Bro. Kau mendapatkan sesorang yang sangat luar biasa. Ia adalah salah satu perempuan terbaik di seluruh dunia. Kau harus menjaganya!”

“Selamat, Sya. Jangan suka marah-marah sama si Darman ini, ya!”

Alvin berjalan turun dari pelaminan. Ia tak lagi memandang Riasya dan Darman. Ia terus berjalan meninggalkan keramaian. Keluar dari gedung pernikahan dan mengambil sepeda motornya di parkiran. Ia pergi. Saat itu cuaca sedang mendung, semendung hatinya yang sakit. 

Sepanjang jalan, Alvin menangis. Ia tetap tidak menerima takdir ini. 

Ia teringat pada satu puisi yang pernah ditulisnya ketika Riasya menolaknya untuk yang keempat kalinya. 

Rasanya senaja ini akan begitu nikmat
Jika ada secangkir teh hangat dan sepotong senyum darimu
Tapi begitulah,
Kau memang ada disini
Menatap senja yang ssama bersamaku
Tapi kau tak disampingku menikmati indahnya senja ini
Kau di depanku
Membuatku mengalihkan pandangan dari ujung laut yang merah
Ke arah punggungmu yang indah
Beruntunglah orang yang mencintai senja
Karena senja akan membalas cintanya dengan keindahannya
Tapi mencintaimu?
Ah. Entahlah....

Komentar