Di Belakang Hotel Cempaka (cerpen saya yang pernah terbit di Harian Waspada)

Di Belakang Hotel Cempaka
Oleh : Eza Budiono

Seorang ibu terduduk lemas di ambang pintu rumahnya menatap jalan setapak becek danpenuh sampah yang menjadi jalan utama menuju rumahnya. Dia baru saja pulang dari kegiatan mencuci pakaian orang-orang yang tidak sempat atau malas mencuci pakaian mereka sendiri. Ia bangkit dari duduknya, bergegas ke jalan raya di depan Hotel Cempaka untuuk menjajakankoran. Pekerjaan yang sangat berat untuk seorang ibu tua yang sudah seharusnya kalah kalasinar terik matahari memangganginya.
Rumahnya di belakang Hotel Cempaka, hotel berbintang empat yang megah berlantaikan dua puluh. Hotel itu begitu cantik dengan paduan fasilitas mereka yang ‘wah’. Belum lagi cantik dan tampannya para pegawai di hotel itu membuat semua orang ingin memasukinya,termasuk semua orang di pemukiman padat penduduk yang berada tepat di belakang Hotel Cempaka. Setiap hari akan terbesit satu keinginan di hati mereka untuk sekedar tidur satu malam di hotel yang konon di bangun oleh orang tionghoa itu.
Mentari  merangkak pulang, mengantarkan lembayung senja yang mulai merupa benang. Wanita itu pun segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, seorang bocah lelaki kira-kiraberumur tiga belas tahun mendekati wanita paruh baya dengan pakaian seragam SMP-nya yangkumal. Wajahnya menunjukkan raut ketidaksenangan.
 “Ibu jual koran lagi ya?” tanyanya dengan intonasi tinggi pada perempuan yang tersenyum menyambut kedatangannya itu.
“Masuk dulu, sholat ashar, habis itu makan. Ibu udah memasak ikan kesukaanmu di dapur.
“Kenapa Ibu menjual koran lagi? Aku kan udah melarang ibu! Ibu sudah terlalu capek mencuci pakaian-pakaian orang kaya itu. Lalu kenapa harus menjual koran lagi? Biar aku aja yang jual koran. Ibu istirahat aja di rumah.”
Kehidupan jalanan membuatnya sanggup mengatakan kata-kata yang sedikit janggal keluar dari mulut seorang anak kelas 2 SMP. Dia menatap mata ibunya dengan pandanganlayaknya seorang super hero yang sedang bertarung melawan musuh. Kuat seakan tak menunjukkan gurat ingin mengalah. Ibunya hanya tersenyum dan kemudian mengambil tas anaknya itu dan menuntunnya masuk kedalam rumah.
“Pergilah sholat, Nak,” bisik ibunya di telinganya yang mulai mengeluarkan keringat karena panasnya sang surya.
“Iya,” jawabnya perlahan dan bergegas pergi ke kamar mandi seadanya di belakang rumah mereka, yang hanya di tutup dengan kain goni bekas. Mereka tinggal berdua tinggal di sebuah rumah kayu yang hanya ada satu ruang tamu, satu kamar, dan satu dapur. AnandaDewantara tak pernah mengenal ayahnya ketika dia mulai bisa mengingat. Hanya rumah reot yang sebenarnya tak layak itu peninggalan ayahnya. Menurut cerita ibunya, ayahnya Tertabrak sebuah mobil yang melaju dengan cepat saat ayahnya berjalan mencari lamaran pekerjaan dengan izajah S-1 nya. Ayahnya seorang yang pintar, Berhasil lulus S-1 ekonomi UI. Mungkin dari ayahnyalah bakat kecerdasan Ananda DewanTara.
Tara, begitu iya biasa dipanggil. Selalu menjadi juara kelas dari mulai SD hingga sekarang saat dia kelas dua SMP. Dia mendapat beasiswa berprestasi dari sekolahnya. Beasiswa itulah yang membantunya bisa tetap sekolah. Dia anak yang ulet, tangguh dan penuh dengan perhitungan. Dia tidak takut apapun, Dia tahu dia punya hak di negeri ini.
Selesai sholat, Tara langsung bergegas ke dapur, dia ingin makan. Dia teringat kata-kata ibunya yang bilang bahwa dia memasak ikan kesukaan Tara. Tara tersenyum saat dia membuka dandang tempat penyimpanan ikan. Karena tidak punya lemari atau meja makan, ikan dan sayur mereka selalu disimpan di dandang sebagai ganti meja dan lemari.
Ikan sambal, pikirnya. Ini makanan yang langka untuknya karena biasanya hanya tempe atahu tahu. Bahkan lebih sering hanya sayur saja, tanpa ikan atau lauk pauk lainnya. Ibunya menangkap gurat keterkejutan di wajah Tara. Ibu yang bersahaja itu langsung memeluk anaknya dari belakang, di ciumnya pipi anaknya. Tingkah ibunya itu sempat membuat Tara menggeliat. Dia tidak suka di perlakukan begitu. Malu donk anak laki-laki tapi kok masih di cium seperti anak-anak. Tapi ibunya selalu melakukan itu untuk sekedar menjahili Tara.
“Itu sebagai hadiah karena kamu dapat nilai 100 di ulangan kemarin,” kata ibunya pelan tepat di daun telinganya. Ibunya langsung melepaskan pelukannya dengan perlahan dan menuangkan nasi dan ikan ke dalam piring Tara.
Makasih Bu. Ibu baik deh,” ucap Tara perlahan.
“Tara dirumah aja ya, belajar. Ibu mau pergi sebentar.
Tara meletakkan piringnya di atas lantai, memandang ibunya dengan tatapan menantang. Dia tahu ibunya akan ke mana. Ibunya pasti akan kembali bekerja, mungkin kembali menjajakan koran sore atahu menjual makanan di perempatan lampu merah di depan Hotel Cempaka. Ditariknya tangan ibunya, lembut. Dirapikannya kasur yang hanya satu-satunya di rumah itu, kasur tua yang dulu adalah mahar dari ayahnya kepada ibunya.
Ibu tidurlah di sana.” Tara menunjuk kasur dengan jari telunjukknya.
“Ibu udah tidur tadi, Ibu udah cukup istirahat.
Oh, keras kepala sang ibu muncul. Ibunya yang terus bekerja siang dan malam hanya untuk memenuhi keperluan Tara. Tara tahbenar. Dan dia akan memaksa ibunya untuk istirahat hari ini karena saat pulang tadi dia sempat melihat dari kejauhan ibunya terkantuk-kantuk di depan pintu.
Ayolah Bu..
“Tara, Ibu mencoba menahan tubuhnya dari tangan Tara yang terus membujuknya.
Tidur dulu, Ibu.” Tara memotong perkataan ibunya dengan nada suara kian melembut dan tegas. Ibunya terdiam. Dialihkannya pandang pada bocah yang selalu berusaha menjadi pelindungnya itu. Tiba-tiba Tara menangis, air mata keluar dari sudut matanya yang mungil.
“Lho, kok nangis, Ananda?” Tanya ibunya sambil berusaha menghapus hangat yang bergulir di pipi buah hatinya itu.
“Ibu pasti capek, Tara tahu ibu selalu bekerja tanpa henti untuk memenuhi keperluan Tara, tapi mulai hari ini Tara rasa cukup, Bu.” Airmata kembali menetes dari matanyaIbu mencuci tiap pagi, bahkan sebelum Tara bangun tidur. Terus siangnya ibu jual koran di sampesore. Terus malamnya ibu goreng kerupuk-kerupuk untuk dijual di warung-warung, dan Ibu tak pernah bisa selelsai sebelum Tara tertidur. Semua demi Tara. Hanya untuk Tara. Lalu kapan Ibu akan istirahatnya?” Air mata Tara bercucuran semakin deras. Ibunya memeluknya dengan erat.
“Tara belum bisa kasih Ibu apa-apa.
Ibu nggak minta apapun darimu, Ananda.
“Tapi Tara ingin memberi pada ibu, Saat ini hanya waktu beristirahatlah yang bisa Tara berikan untuk ibu, Tara mohon. Istirahatlah bu, Ibu sudah cukup tua”
Di hapusnya air matanya sembari melepaskan peluk dari anak semata wayangnya. Ditatapnya Tara dalam diam, di hapusnya airmata yang mulai mengering di sudut-sudut mata anak yang diharapkannya menjadi seperti Ki Hajar Dewantara itu.
“Ibu akan istirahat.” Sang Ibu pun naik ke atas tempat tidur untuk menyenangkan hatianaknya. Tara tersenyum, Tak lama setelah itu ibunya tertidur dengan pulas, dengkuran halus terdengar.
 “Ternyata Ibu benar-benar capek,” batinnya.
Tiba-tiba hari berubah mendung saat Tara bergerak meninggalkan rumah. Dia akan bekerja seperti biasa, menjaja koran sore. Di tatapnya langit. Dia tahu bahwa awan sudah berada di titik jenuh dan akan segera melepaskan butiran-butiran airnya.
Dia terus berusaha menjajakan koran-koran yang menumpuk di tangannya. Supir bus, mobil pribadi, truk, semua ditawarinya untuk membeli korannya sambil mulutnya terus berkomat-kamit membacakan berita utama dari koran yang dijajakannya.
Dia beruntung, korannya laku keras hari itu. Mungkin hanya tinggal 10 lagi di tangannya.Namun ia segera menjadi panik saat disadarinya hujan menitiklalu melebat. Tara dan semua anak jalanan berlarian mencari tempat untuk berteduh. “Padahal tinggal sepuluh lagi,gumamnya lesu.
Dipandanginya jalanan yang mulai basah tergenang air hujan. Dilihatnya ke seberang jalan. Dipicingkannya mata. Dari kejauhan tampak olehnya jam besar di pos satpam Hotel Cempaka. Pukul setengah lima. Sudah waktunya pulang, tukasnya dalam hati. Tapi diurungkan niatnya. Kalau dia tidak menjual koran-koran itu sekarang, takkan ada kesempatan lagi baginya untuk meraup profit yang maksimal. Dibungkusnya koran-koran itu dengan plastik agarterlindung dari hujan.
“Bukankah hujan adalah anugerah Allah?” pintanya perlahan mengibur diri.
Lalu dia menerobos hujan untuk menjajakan korannya ke para pengemudi yang berhenti di lampu merah. Tapi sepertinya tak ada yang berminat membeli dan membaca koran dalam keadaan hujan selebat ini. Mereka menggelengkan kepala, isyarat tidak. Tapi Tara tak menyerah, dia terus menjajakan korannya. “Bukankan menyerah itu tidak boleh? Semangat, semangat..,” katanya lagi menghibur dirinya.
Dan yaak! Semua korannya berhasil terjual. Badannya mulai menggigil kedinginan.Dilihatnya lagi jam di pos Satpam, pukul setengah enam. Aku belum sholat Ashar, desisnya.Bergegas ia melangkah menuju rumah ketika dillihatnya sebuah keluarga keluar dari mobil mewah yang terparkir di halaman hotel. Ada anak perempuan kira-kira sebaya dengannya. Dipandanginya anak perempuan yang putih bersih itu. Dari matanya yang sipit, Tara tahu kalau darah tionghoa pasti mengalir di tubuhnya. Tara terus memandang ke arah hotel megah yang tepat di depan rumahnya itu. Beruntung sekali kau gadis cantik, di lahirkan menjadi orang kaya” lirihnya.
Tara pulang. Air hujan mengguyur tubuhnya yang kurus. Tak terasa air mata kembali keluar, nyaris tumpah namun segera terhapus oleh rinai. Bayang ayahnya mendadak melintas.Tara sering menerka-nerka bagaimana sifat ayahnya yang tak bisa diingatnya. Apakah ayahnya seorang yang pantang menyerah, baikkah, atau jahat? Tara tak tahu. Dan dia tak berani bertanya pada ibunya. Takut ibunya sedih.
Di tengah perjalanan, Tara melihat teman-teman seperjuangnnya dengan dagangan koranyang belum habis. dia menjadi kasihan. Hidup begitu sulit. Dia ingin merubah ini semua, hidupnya, hidup teman-temannya. Di dongakkannya kepalanya menatap puncak Hotel Cempaka yang megah. “Lihat saja! Kelak aku akan punya hotel yang lebih megah dari ini,” ucapnya penuh semangat.
Dia teringat lagu kesukaannya yang biasa dimainkannya dengan gitar bersama teman-temannya. Dinyanyikannya lirih lagu itu di antara hujan yang seakan tak mau berhenti. Dia berjalan memutar, kian menikmati hujan. Mulutnya berkomat-kamit menyanyikan laguDMassive, Jangan Menyerah.
Sholat Ashar ditinggalnya dengan sadarnya. Dia terus berjalan. Seolah ingin mendengar cerita yang dikisahkan hujan. Sesekali ia menatap langit yang makin menggelap. Badan kecilnya ciut. Dia tersenyum ketika disadari badannya makin menggigil kedinginan. Tara mulai berlari sambil membuka tangannya seakan-akan memiliki sepasang sayap. Dia melompat. Dia menjerit sesukanya. Teman-teman yang melihatnya pun mengikuti perbuatannya. Mereka tertawa, melompat, menjerit membuang kesusahan yang mereka alami. Mereka bahagia, hari itu adalah hari dimana mereka benar-benar menjadi anak-anak. Hotel Cempaka merupa saki bisu keceriaan mereka.
Ibunya mendelik ketika melihat anak kesayangannya pulang. Dia ingin marah tapi marahnya teredam oleh senyum anaknya yang hari itu begitu indah. Ibunya bingung melihatnya. Tara tahu akan kebingungan ibunya. Dia hanya tersenyum, menyambar handuk di dekat kursi dan langsung masuk ke kamar mandi.
Malam itu Tara mengurung diri di kamar. Tugas sekolahnya dia selesaikan dengan cepat. Buku-bukunya yang besok akan dibawa kesekolah sudah disusunnya ke dalam tas, lengkap sudah. Mendadak ia menyadari ada ketidakberesan pada badannya. Suhu badannya meningkat dan menggigil. Dia tahu dia demam, tapi ibunya tak tahu. Dia tadi berpura-pura minta izin pada ibunya untuk tidak ikut membantu membuat kripik malam ini dengan alasan besok ada ujian.
Dia takut kalau-kalau ibunya menyadari demamnya dan langsung khawatir sehingga tidak jadi membuat kripik tapi malah mengurus dia. Ditariknya selimut. Tidur, berharap besok dia sudah sembuh. Tak lama kemudian. ibunya masuk kedalam kamar. Firasatnya merasa tak enak dan hati membisikinya untuk mendekat pada Tara. Disentuhnya pelan anaknya. Dia sedikit terkejut, sadar anaknya demam. Dia tahu akan seperti ini, karena sedari kecil Tarakesayangannya itu tak tahan pada air hujan. Diambilnya bawang merah, diremasnya, laludimasukkannya ke dalam air hangat. Selanjutnya handuk kecil menjadi kompres bagi Tara yang malam itu tidur dengan nyenyaknya.
Pagi itu Tara bangun lebih cepat dia terkejut ketika menyadari ada kompres di dahinya. Dan melihat ibunya yang tidur dalam posisi duduk. Mungkin ibunya begadang semalaman untuk memastikan kompres ini tidak jatuh, pikirnya. Diambilnya selimut lalu menyelimutkannya pada ibunya. Adzhan shubuh terdengar dari kejauhan.
Dibangunkannya ibunya dengan perlahan dan dengan kasih saying“Ibu, bangun.. Sholat shubuh dulu.
Ibunya menggeliat dan sadar kalau dia sudah terlambat bangun. Ibunya berlari kecil menuju ke kamar mandi, mengambil air wudhu untuk sholat. Selesai sholat dia kembali masuk ke dalam kamar yang hanya satu-satunya di rumah kecil itu. Di sentuhnya dahi anaknya dengan punggung tangannya.
“Badanmu masih hangat, nggak usah sekolah hari ini ya. Biar Ibu yang memberi tahu kesekolahmu.
Tara tersenyum memandang ibunyaNggak Bu, Tara nggak apa-apa.
Ibunya menatap lagi anaknya itu. Lalu dia berjalan menuju dapur meninggalkan anaknya. Dia tahu bagaimana sifat anaknya itu. Persis seperti mendiang suaminya, tidak akan pernah menyerah pada apapun. Apalagi untuk pendidikan dan sekolah. Dia ingat betul bagaimana dulu suaminya berhasil menyelesaikan S-1 nya dengan segala keterbatasan. Dia bekerja sepulang kuliah. Belajar di kala subuh dan tak pernah mengeluh. Persis seperti buah cinta mereka.
Tara tetap pergi ke sekolah dan melangkah meninggalkan rumah setelah mencium tangan ibunya.
Kalau demam mu semakin parah, minta izin pulang ya, pesan Ibu.
Tara mengangguk dengan sebentuk senyum sehangat mentari pagi. Lalu ia berjalan dengan semangat, dilupakannya demam yang masih terasa di tubuhnya. Sambil menatap matahari yang cerah hari itu dia berkata lirih dalam hatinya.
Hari ini pelajaran terakhir Ekonomi Bu. Mana mungkin mau melewatkannya!
Kaki kecilnya berjalan pelan di gang kumuh tepat di belakang Hotel Cempaka yang megah. Ibunya masih menatap anaknya yang menjadi penyemangat hidupnya. Dia teringat kejadian sekitar 12 tahun yang lalu. Hari itu suami yang dicintainya demam cukup tinggi, tapi dia tetap pergi untuk mencari pekerjaan karena dia baru saja di PHK. Dia sudah melarang, tapi semangat suaminya melebihi batu karang di laut. Dia tetap pergi dan menurut saksi mata yang berada di lokasi kejadian di mana suaminya tertabrak, suaminya terjatuh dari trotoar karena lelah dan tak mampu lagi berdiri. Saat jatuh, sebuah truk langsung menyambarnya. Dan Ananda Dewantara menjadi yatim sejak saat itu.

Komentar