Yasmine dan Fatih


Yasmine dan Fatih


“Aku tidak mau tau, bagaimanapun kau harus bisa mengembalikan temanku itu seperti sedia kala. Hari ini, dia menangis lagi. Merenung sendirian, kalau bukan kau yang menyebabkan itu semua, siapa lagi?”
“Kenapa kau menuduhku, aku juga tidak tau, tiga hari yang lalu kami masih baik-baik saja. Kami masih tertawa dan bercengkrama dengan sangat hangat, tapi setelah kami pulang dari makan malam waktu itu, dia tidak lagi memberiku kabar. Semua pesanku tak dibalas dan semua panggilan telponku tidak dijawab”
“Lah... kau mau mengelak, jelas sekali bahwa dia berubah sikap seperti itu setelah pertemuan denganmu. Kenapa kau masih berani untuk mengatakan bahwa bukan kau penyebabnya?”
“Karena aku memang tidak melakukan apapun, aku tidak membuatnya menangis. Aku tidak menyinggungnya, bahkan air wajahnya terus gembira saat kami makan malam tiga hari yang lalu itu”
“Mungkin karena kau tidak melakukan apapun, maka dia sedih!”
“Hah?”
“Aku tidak mau tau, kau harus bertanggung jawab!”
“Apa yang harus ku tanggungjawabi, aku bahkan tidak tau apa yang harus aku lakukan”
“Tapi faktanya, dia seperti itu setelah pertemuan denganmu!”
“Kenapa kau selalu seperti itu? Selalu menyalahkanku, sejak dulu, sejak kecil kita berteman, kau seolah selalu benar dan aku seolah selalu salah!”
“Oh, sekarang kau seolah mau menjadi korban, Fatih?”
“Korban? Aku memang korban disini, Yas. Lihatlah, aku sama sekali tidak tau cara berpikirmu itu. Bukankah aku baru kenal dengan Airin dua minggu yang lalu. Lantas ketika dia berubah sikap seperti itu, menjadi kesalahanku. Kami bahkan belum sempat bercerita tentang cinta-cintaan, kami masih pada tahap saling mengenal satu sama lain. Seharusnya kau yang disalahkan, mungkin kau yang menyinggungnya sehingga membuat dia seperti ini”
“Kau menyalahkanku?”
“Lah, kenapa kau pula yang menangis?”
“Kau tidak mengenal Airin dengan baik, mungkin kalian memang baru kenal dua minggu ini. Tapi Airin sudah menyukaimu sejak kelas tiga SMA, itu setahun yang lalu Fatih!”
“Kau sudah berulang kali mengatakan itu, tapi tetap saja aku tidak mengerti mengapa dia berubah sikap secara drastis seperti itu. Dan hei, kenapa kau semakin menangis, orang-orang mulai memperhatikan kita, Yasmin”
“Kau masih mau berkelah, kenapa sekarang kau menjadi laki-laki pengecut seperti ini, Fat? Dia menangis setelah pertemuan kalian itu. Dia berubah murung setelah makan malam kalian itu. Tidak kah kau bisa merasionalkan di dalam kepalamu yang telah memenangkan tiga tahun berturut-turut olimpiade matematika itu?”
“Ha. Itu tidak mungkin, Yas!”
“Tidak mungkin katamu, bagaimana bisa. Bukankah kau orang yang sangat cerdas, orang seperti ku saja bisa mengerti logika sederhana itu, Fat!”
“Aku bingung denganmu. Kenapa kau tidak tanya saja si Airin itu, kenapa dia berubah sikap seperti sekarang ini. Bukan malah menuduhku dengan logika yang kau buat-buat sendiri, Yas!”
“Fatih, dia tidak mau berbicara denganku. Kalau bukan karena kau, karena siapa lagi. Aku yang mempertemukan kalian, aku yang memaksamu untuk mencoba PDKT dengannya. Aku yang mengatur pertemuan pertama kalian. Kali ini, dia tidak mau berbicara denganku, setelah pertemuan denganmu. Apa kau semakin tidak bisa merasionalkan bahwa semua ini karena pertemuan kalian malam itu?”
“Tentu saja tidak bisa dianalogikan semudah itu, bukankah hubungan kalian dekat. Kalian berinteraksi setiap hari, bertemu di kampus setiap hari. Mungkin kau salah bicara kepadanya sehingga membuat ia murung karena tersinggung!”
“Oh, Fatih, bagaimana mungkin kau mulai menyalahkanku!”
“Tolong Yasmin, jangan ucapkan kalimat seperti itu, sambil menangis pula. Aku seperti orang jahat yang telah memperlakukanmu dengan buruk!”
“Kau memperlakukan temanku dengan buruk, kan?”
“Tidak, Yasmin! Sudah ku katakan, kami bahkan belum bicara tentang hati, kami masih saling menganal. Memperlakukan buruk? Kau pikir aku sudah menyentuhnya?”
“Ya, bukankah laki-laki selalu sama!”
“Kau melebeliku sebagai laki-laki kurang ajar yang menyentuh perempuan yang baru ku kenal dua minggu, Yas?”
“Lantas Airin kenapa, Fatih?”
“Aku tidak tau!”
“Seharusnya kau tau, kau kan sangat pintar. Sudah kukatakan itu logika mudah, Fatih. Dia berubah setelah makan malam kalian itu. Kau pasti telah melakukan sesuatu!”
“Oh. Aku memang tidak pernah bisa menang debat melawanmu, Yas!”
“Karena kau salah, kalau kau tidak salah, kau tidak akan kalah. Ayolah Fatih, ikut aku menemui Airin, bertanggung jawablah!”
“Tidak, Yas!”
“Oh, aku tidak mengerti, sejak kapan kau menjadi laki-laki jahat seperti ini, Fat”
“Tidak, Yas! Aku tidak salah. Aku yakin itu, aku tidak sanggup menang berdebat denganmu bukan karena aku salah. Tidak kah kau ingat, aku selalu kalah saat berdebat denganmu. Aku selalu salah setiap kali kau menyalahkanku walaupun pada dasarnya aku tidak salah. Ingatlah Yas, setiap kali kau mulai menangis, maka aku akan melakukan apapun demi air matamu terhenti. Lihatlah Yas, aku selalu mengalah setiap kali kau memintaku mengalah. Tidak kah kau mengerti hal semudah itu, Yas? Tidak kah kau bisa merasionalkan hal semudah itu di dalam otakmu yang memenangkan tiga olimpiade fisika tiga tahun berturut-turut itu?”
“Apa maksudmu, Fat?”
“Sebenarnya, saat kau memintaku untuk mendekati Airin, Aku tidak mau. Aku tidak akan menyukainya, Yas. Tapi jujur, aku juga tidak tau kenapa dia berubah seperti itu. Aku tidak mengerti. Tapi jika kau ingin menyalahkanku atas kejadian itu, aku tidak akan bisa menolak. Seperti yang sudah-sudah, apapun yang kau katakan kepadaku, aku akan menerimanya, melakukannya walau hatiku terkadang tidak menyetujui hal itu”
“Apa maksudmu, Fatih?”
“Aku mencintaimu,Yas. Entah sejak kapan, aku juga tidak tau. Tapi pastinya, kau mengerti bukan. Aku selalu mengunjungimu. Aku selalu menghubungimu, aku selalu mengajakmu untuk menemaniku. Aku selalu ingin tau apa yang sedang dan akan kau lakukan, aku ingin terus di dekatmu”
“Aku mengalah setiap kali kau marah, aku kelabakan setiap kali kau menangis. Aku selalu hadir saat kau memanggilku. Aku selalu mengalah setiap kali berdebat denganmu. Aku selalu ingin memastikan agar kau bahagia”
“Aku cemburu ketika kau menjalin hubungan dengan orang lain. Aku cemburu saat kau memiliki teman lain selain aku, aku marah setiap kali kau bersenang-senang tanpa melibatkanku. Semua itu telah dari jauh hari kurasakan, Yas. Bahkan hingga hari ini. Aku mengalah dan mengikuti kemauanmu untuk PDKT dengan Airin. Dan hari ini, sepertinya aku juga akan mengalah ketika kau terus menududhku sebagai penyebab perubahan sikap temanmu itu”
“Kenapa kau semakin menangis, Yas? Maafkan aku jika kau tidak menyukai pengakuan itu. Berhentilah menangis, Yas. Semua orang mulai memandangi kita. Aku bisa gila kalau kau terus menangis seperti itu!”
“Kenapa, Fat?”
“Maafkan aku, Yas! Aku tidak tau lagi harus berkata apa!”
“Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?”
“Apa maksudmu, Yas?”
“Kenapa kau tidak mengatakan padaku bahwa kau menyukaiku?”
“Apa maksdumu, Yas?”
“Aku bertanya, Kau bodoh sekali, bukankah pertanyaanku sangat jelas?”
“Kau berharap aku mengatakannya padamu?”
“Bodoh, aku bertanya, Fat!”
“Oh, bagaimana ya, e.. aku... Aku tidak tau pasti, sih!”
“Apa maksudmu, kau harus menjawab atau aku akan menangis lebih kencang!”
“Oke. Aku takut, kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku sehingga setelah aku menyatakan perasaanku, kau menjauh dan meninggalkanku. Bagiku, lebih baik aku tetap merahasiakannya namun bisa tetap dekat denganmu daripada aku menyampaikannya tapi jauh darimu!”


“Airin, maafkan aku!”
“Maafkan aku juga, Rin!”
“Kenapa? Kalian berdua tidak salah apapun, kan?”
“Entahlah, menurut Yasmin akulah penyebab kesedihanmu tiga hari ini, Rin!”
“Atau ini semua kesalahanku, Rin”
“Ah, tidak, ini bukan salah kalian berdua. Maafkan aku telah membuat kau khawatir, Yas”
“Bukan hanya aku saja yang khwatir, semua teman kita khawatir, sebagai anak perantauan kita pasti harus memikirkan teman satu kampung kita kan, Rin. Fatih juga khawatir, bukankah begitu, Fat?”
“Ah, Ya. Maafkan aku, Rin!”
“Tidak, Fatih tidak sedang khawatir kepadaku, Yas. Dia datang kesini pun pasti terpaksa, dia datang karena perintahmu kan?”
“Ha. Tidak kok, tidak seperti itu!”
“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Aku mohon maaf karena terlah memperlakukan kalian berdua seperti orang jahat. Ini bukan salah kalian, aku yang salah. Aku gagal menjadi orang yang rasional, aku mencintai seorang laki-laki yang ternyata tidak mencintaiku. Bukankah aku tidak mesti menangis? Bukankah mencintai seseorang adalah hak bagiku, namun ketika cintaku tak berbalas juga adalah hak bagi orang yang kucintai itu?”
“Apa maksudmu, Rin”
“Yas, malam itu, aku bahagia sekali. Kami makan malam berdua seperti yang selama ini aku inginkan. Itu malam yang menyenangkan yang telah lama ku nanti-nanti. Namun sayang, Yas. Malam itu, bukan aku yang menjadi ratunya!”
“Apa maksudmu, Rin”
“Benar, lihatlah Fat, lihatlah temanmu ini. Seperti yang kau katakan, dia adalah orang yang paling tidak sabaran. Selalu bertanya apa maksudmu, apa maksudmu. Lihatlah, lihatlah gadis yang kau cintai ini, Fat. Sesuai dengan apa yang kau sampaikan, ia begitu cantik setiap kali menunjukkan keantusiasannya pada sesuatu”
“Apa maksudmu, Rin?”
“Ha. Sekarang kau pula yang bertanya, Fat? Malam itu, Yas. Kami tidak bercerita tentang aku ataupun Fatih. Sepanjang makan malam yang kupikir romantis itu, orang yang kucintai, Fatih Kaisar, asyik membicarakan Yasmine Fahriza, orang yang dia cintai. Sedih sekali malam itu, bagaimana mungkin orang secerdas Fatih tidak menyadari raut wajahku yang sangat keberatan ketika dia terus membahasmu, Yas!”
“Fatih?”
“Maafkan aku, maafkan aku. Aku pikir, Yasmin adalah orang yang mempertemukan kita. Aku pikir, membahas Yasmin pastilah menjadi topik yang mudah untuk kita bahas berdua. Bukankah kita berdua mengenal dia dengan baik?”
“Sudah Fatih, tidak perlu merasa bersalah. Tidak perlu meminta maaf, tidak terlarang bagimu untuk membicarakan Yasmin dihadapanku ataupun dihadapan orang lain. Aku yang terlalu kecil hati, tidak sanggup menerima kewajaran itu. Sangat wajar sekali ketika kita membicarakan Yasmin. Tapi aku yang tak sanggup, aku tak sanggup membaca mimik wajah ceriamu setiap kali nama Yasmin tersebut”
“Maafkan Aku Rin!”
“Tidak, Yas. Aku tegaskan, kalian berdua tidak salah. Aku yang terlalu berharap. Benar sekali kata orang, berharap itu haruslah hati-hati. Jangan sampai harapan yang tak tercapai membuat kita hancur berkeping-keping”
“Rin, jangan berkata seperti itu!”
“Tidak, aku tidak akan berkeping-keping, Yas. Namun aku butuh waktu, aku butuh sendiri. Aku butuh untuk menstabilkan hatiku lagi, aku butuh waktu untuk kembali menelaah cinta yang telah kutanamankan. Maafkan aku, kalian tidak salah. Bolehkan aku meminta waktu untuk sendiri dulu, Yas?”


“Bagaimana mungkin?”
“Apa salahnya, Yas?”
“Bagaimana mungkin kau membicarakan perempuan lain dihadapan perempuan lain!”
“Bagaimana mungkin aku tidak membicarakanmu jika yang ada di dalam pikiranku memang hanya ada kau!”
“Tapi...”
“Aku mencintaimu, Yas!”
“Tapi Fatih...”
“Kumohon, bisakah kau mengabaikan semua perasaan teman-temanmu itu dan menerima perasaanku kali ini, Yas?”
“Bagaimana mungkin?”
“Yas, Aku mencintaimu!”
“Selama ini, kupikir kau hanya menganggapku sebagai teman saja, Fatih!”
“Seharusnya kau bertanya apa maksudmu, Fatih bodoh!”
“Hah. Apa maksudmu, aku sedang membiarkan kau mengakhiri kalimatmu yang kurasa sedang tanggung!”
“Fatih bodoh. Bodoh. Bodoh!”
“Ada apa sebenarnya, Yas!”
“Aku juga mencintaimu, sejak lama!”

Komentar