Harusnya aku yang disana
Dampingimu dan bukan
dia
Harusnya aku yang kau
cinta dan bukan dia
(Armada-Harusnya
Aku)
Lelaki berusia
22 tahun itu sedang duduk di balkon lantai dua rumahnya dengan memegang sebuah
gitar. Sudah satu jam dia memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu-lagu patah
hati. Lagu Armada-Harusnya aku itu menjadi lagu favorit yang setidaknya sudah
diulanginya tiga kali. Beberapa kali ada air mata yang menetes dari matanya.
Beberapa kali pula, ada amarah yang tampak dari wajahnya.
Namanya Ahmad.
Dia memang sedang patah hati.
Seminggu yang
lalu, perempuan yang diidam-idamkannya, yang dicintainya selama tujuh tahun
belakangan telah menikah dan bukan dia yang menemani perempuan itu di pelaminan.
Ahmad marah, dia marah karena ia merasa punya hak untuk marah. Bukan tanpa
sebab, tujuh tahun yang lalu dia dan perempuan itu sudah berjanji untuk saling
menunggu setidaknya hingga usia 25 tahun. Ahmad baru saja selasai kuliah sarjana,
dia belum mapan dengan pekerjaannya dan Yasmine-nama perempuan itu- malah
menikah dan meninggalkannya.
Dalam setiap
petikan gitar yang dimainkannya hari itu, Ahmad terbayang-bayang kisah masa
lalu antara dirinya dan Yasmine. Perjalanan cinta mereka yang seumur jagung,
memutuskan untuk berpacaran secara sembunyi, putus dan berjanji untuk saling
menunggu terus berkelebat dalam ingatan Ahmad sembari petikan gitar yang kian
getir.
“Aku berjanji
dan berusaha untuk tidak menikah dengan siapapun selain kau. Dan tunggulah aku.
Setidaknya hingga umurmu 25 tahun. Jika aku tak kunjung datang hingga saat itu,
kau boleh menikah dengan siapapun yang kau mau. Bagaimana, Yas?”
Ahmad mencoba
untuk mengingat kalimat yang disampaikan Yasmine setelah ia mengucapkan kalimat
itu, namun dia kesulitan untuk mengingatnya. Dia sebenarnya ingin menuliskan
kalimat percakapan itu di media sosial dan menarik minat orang lain untuk turut
menghakimi Yasmine seperti dia yang sedang mengkahimi Yasmne saat ini. Tapi
memang dia tidak bisa mengingat dengan pasti kalimat yang disampaikan Yasmine
untuk menjawab kalimatnya di hari perpisahan mereka itu.
Gitar tua yang
selama ini disimpan di atas lemari sekitar hampir delapan tahun itu akhirnya
menjadi teman satu-satunya yang menemani Ahmad dalam patah hatinya malam ini.
Padahal, sejak ia bergabung dengan organisasi Rohis sekolah delapan tahun yang
lalu, Ahmad sudah tak pernah bermain gitar lagi. Bukan karena ia berpinsip
bahwa alat musik itu haram. Namun menurutnya, tidak cukup waktu untuk bermain
musik sedangkan agenda-agenda dakwah yang begitu banyak setiap harinya.
“Assalamualaikum”
Sebuah suara
menghentikan petikan gitar Ahmad. Ahmad menoleh ke asal suara, itu masih orang
yang sama. Orang yang sama yang sudah tiga hari berturut-turut mengunjunginya
dan menceramahinya. Lelaki itu Ali Imran. Teman yang membersamai Ahmad selama
delapan tahun perjalanan dakwah mereka.
“Ngapain lagi
kau, Li?”
“Aku masih tak
melihatmu di masjid sejak subuh hingga isya tadi.”
“Itu bukan
urusanmu lah, Li.”
“Bagaimana
tidak menjadi urusanku, Mad? Kita sudah bersama selama delapan tahun, selalu
mengisi masjid komplek ini bersama. Bedakwah bersama. Membuat kegiatan-kegaitan
pembinaan untuk remaja-remaja dan anak-anak sekolah. Bagaimana mungkin aku
membiarkanmu seperti ini.”
“Lantas, kau
mau apa? Kau mau berbuat apa? Kau mau aku lakukan apa?”
“Aku mau kau
sudahi ini semua. Kembali menjadi Ahmad yang sebelumnya dan berjuang kembali
untuk dakwah. Begitu banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan. Dua bulan
lagi kita sudah masuk bulan Ramadan dan agenda yang telah kita rancang itu
perlu untuk di kerjakan.”
“Kerjakan
sendiri, kau bisa mengajak anak pindahan dari Ibukota itu. Suami si Yasmine itu
kau jadikan sebagai tandem barumu. Aku sudah tidak mau lagi.”
“Tapi Mad. Kita
yang merancang ini semua kan?”
“Dan Allah yang
telah merancang hancurnya perasaanku ini, Li.”
“Astagfirullah Alazim.”
Suasana hening.
Ada sedikit rasa bersalah di dalam hati Ahmad menyadari bahwa ucapannya yang
berusan itu sudah cukup kelewatan. Ali menatap wajah temannya itu. Wajahnya
yang sebelumnya tampak bersahabat kini tampak mulai marah.
“Jadi, kau
sudah dipanggil televisi karena viralmu itu?”
“Apa maksudmu?”
“Bukankah kau
ingin viral, menyanyi lagu harusnya aku di pernikahan Yasmine sambil menangis
dan dilihat oleh semua orang?”
“Jaga bicaramu,
Ali.”
“Mengapa kau
marah? Bukankah niatmu berdakwah selama ini juga bukan karena niat tulus
melainkan agar Yasmine tetap berada dalam radar perhatianmu.”
“Daripada aku
memukulmu lebih baik kau pergi dari sini!”
“Kau pikir kau
bisa mengusirku? Ini bukan rumahmu anak muda. Ini rumah Ayahmu dan tadi ayahmu
sudah memberikan izin untukku masuk ke dalam rumah ini dan bahkan memintaku
untuk tidur disini malam ini agar bisa membawamu berjamaah di masjid subuh
esok.”
“Tapi ini
kamarku.”
“Kau memalukan
sekali, tukang klaim. Beberapa hari yang lalu kau mengklaim bahwa Yasmine hanya
pantas untuk kau dan sekarang kau mengklaim bahwa ini merupakan kamarmu. Kau
tidak tau bahwa Yasmine adalah wanita merdeka yang boleh menentukan dengan
siapa dia menikah dan kamar ini jelas adalah bagian dari rumah besar ayahmu
yang membuatnya otomatis menjadi kamar milik ayahmu yang dipinjamkan kepadamu.
Lelaki fakir miskin yang diberi tempat tinggal.”
“Huh.. Aku
kenal kau Ali. Setelah beberapa hari ini cara persuasif tidak mempan kepadaku.
Kini kau mencoba memanas-manasiku. Sudahlah kawan. Kau pulang saja, aku sedang
ingin menikmati malam-malamku.”
“Aku akan
pulang, tenang saja. Aku tidak tertarik tidur dengan pesakitan yang sedang
sakit jiwa sepertimu.”
“Aku tidak
sedang sakit jiwa Ali. Aku sedang patah hati.”
“Karena hidupmu
hanya berharap pada manusia, bukan pada Allah.”
“Kau tau
sendiri, kau hadir disitu Ali. Yasmine berjanji padaku untuk menunggu.”
“Tidak, dia
tidak mengatakan apapun!”
“Apa maskudmu.”
“Aku ingat
Yasmine hanya bilang bagaimana kalau Allah berkehendak lain. Dan kau waktu itu
jawab dengan sok perkasa sekali. Kalau Allah sudah berkata lain, kita manusia
bisa apa? Dan lihat kau hari ini, kawan? Lihat kau yang menjadi gila padahal
seharusnya kau tau ini semua adalah kehendak dari Allah. Bukankah kau bilang
jika Allah berkehendak, kita manusia bisa apa?
“Tapi dia belum
25 tahun Ali. Usaha menuju ke perjanjian itu belum maksimal dilakukan.”
‘Karena dia
tidak pernah menerima janji mu yang salah itu, Ahmad. Setelah kau sok tegar
berkata bahwa kita tidak bisa melakukan apapun jika Allah sudah berkehendak.
Yasmine hanya tertunduk dan berkata dengan sangat pelan. Kau seharunya ingat
kalimat itu. Dia berkata pelan tapi sangat tegas. Dia bilang “Kalau begitu apa
artinya kita saling menunggu?
“Dan kau yang
terlalu yakin bahwa Yasmine akan mencintaimu selamanya dengan sangat percaya
diri menutup percakapan itu dengan keputusan sepihak lantas berkata “Tenanglah,
aku akan menempuh jalan seterjal apapun untuk menjeputmu.” Dan yang coba kau
lupakan dari itu semua adalah bahwa Yasmine tidak pernah mengatakan apapun
setelah kalimat sok jagomu itu. Dia tidak pernah menyepakati janji palsu yang
sedang kau buat itu, Ahmad.
“Kau bohong.”
“Kau yang tidak
berani mengakui bahwa Yasmine memang tidak pernah sepakat untuk saling
menunggu, kawan.”
“Kau
pembohong!”
“Tiidak Ahmad.
Tidak. Kau pasti tau sendiri, Yasmine tidak mengatakannya dan dia memilih move on. Bangkit dari keterpurukan atas
cinta yang salah itu. Bertaubat, memperbaiki diri, belajar agama lebih banyak,
menghafal alquran lebih banyak. Lantas menjadi wanita solehah yang hanya pantas
untuk lelaki soleh. Dia bertemu dengan lelaki soleh itu. Teman kita satu
kampus, orang yang berjuang sejak semester satu untuk menjadi mapan. Bekerja
kesana-kemari untuk meneruskan kuliahnya. Kesuksesan diraihnya ketika masih
disemester lima. Hafal Alquran, selalu menjaga pandanganya. Dia memang pantas
sekali dengan Yasmine yang juga menjaga pandangannya. Kau tidak pantas kawan,
kau yang hijrah hanya karena agar tetap dapat melihat Yasmine tidak sepadan
dengan Yasmine ataupun dengan suaminya itu. Tidak sepadan.”
“Diam Ali! Dan
tinggalkan aku sendiri, pergi kau dari kamarku!”
“Hey Ahmad.
Lihatlah dirimu yang sudah gila ini. Kau merasa harusnya kau yang menjadi
pendamping Yasmine. Tapi lihatlah dirimu, yang rapuh hanya karena urusan
seremeh-temeh ini? tidak mungkin, tidak mungkin kau pantas untuk Yasmin yang
sejak putus denganmu itu telah menjadi bunga mekar dengan ketaatannnya.
Sedangkan kau, sejak putus itu tidak pernah bergerak dari tempat itu. Hanya
Yasmine dan Yasmine. Itu tidak mungkin Ahmad, jauh sekali kalau kau merasa
bahwa kaulah yang pantas untuk Yasmine.”
“Diam kau Ali!”
“Aku tidak akan
pernah diam. Sudahlah Ahmad, dengarkan aku! Aku ingin sampaikan sebuah pesan.
Kau mau mendengarkannya dengan hati yang lapang sebentar saja?
“Aku mencoba
untuk menjelaskan ini semua dengan angka agar lebih mudah dimengerti. Tapi
sejatinya, apa yang akan ku sampaikan ini tidak lah dapat ditafsirkan demikian.
Kau temanku, aku juga menjadi sakit hati melihat kau menjadi seperti ini karena
hal sepele ini, Ahmad.
“Kau tau
sendiri, Allah segala penentu keputusan. Kita hanya perlu bersyukur atas segala
nikmat yang diberikanNya dan senantiasa bersabar atas cobaan yang datang dengan
ujianNya. Ahmad, kau tau sendiri. Tidak ada rencana manusia yang lebih baik
dari rencana Allah. Untuk urusan mu dengan Yasmine, seharusnya kau bersyukur
karena Allah masih memberikan kesempatan kepadamu untuk sabar dan berubah.
“Kau yang
selama ini memendam rasa kepada Yasmine, berbuat untuk Yasmine, dan melakukan
semua pekerjaan dakwah hanya untuk dapat dilihat oleh Yasmine saatnya
memperbaharui niat dan bangkit. Jadikan semua kerja-kerjamu hanya untuk Allah
saja. Ahmad, jika Yasmine adalah angka 10, saat ini bisa jadi kau hanya berada
di angka 2. Itu membuat kau tidak pantas mendapatkannya.
“Atau Ahmad,
sesungguhnya engkau sudah berada di tingkat 20. Lalu Allah memberikan ujian
kepadamu agar naik tingkat dengan pernikahan Yasmine. Jika saja kau berhasil
melewati ujian ini, kau mungkin akan naik tingkat dan Allah sudah siapkan
perempuan yang jauh lebh baik daripada Yasmine dan tentu saja setingkat
denganmu.
“Tapi sayang,
kau benar-benar telah hancur dan gagal dalam ujian ini!”
“Diam kau dan
pergi dari kamarku!”
“Ya, aku akan
pergi dan tidak akan pernah datang lagi kecuali besok subuh kau kembali
berjamaah di masjid seperti kau yang sebelumnya.”
Ali
melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Yasmine dan suaminya telah bahagia.
Mereka tidak pernah mempedulikan tingkah Ahmad yang menyanyikan lagu Armada
sambil menangis di pernikahan mereka. Saat ini, mereka sedang berbulan madu
sambil melaksanakan Umroh. Tidak peduli bahwa video Ahmad yang menyanyi
dipernikahan mereka itu sedang viral di media sosial.
Ahmad harus
bangkit, dia juga harus bahagia. Oleh sebab itu Ali terus berusaha untuk
menyadarkan sahabatnya itu. Sebenarnya, Ali tau bahwa Ahmad sudah bisa bangkit
dari Yasmine. Ali tau benar bahwa dakwah Ahmad selama ini dilakukan ikhlas
hanya untuk ibadah kepada Allah semata. Namun, cobaan ini memang tidak bisa
ditolak. Allah sedang mengujinya dengan sesuatu yang paling disenanginya yaitu
Yasmine. Namun Ahmad yakin, Ali yang merupakan pejuang dakwah itu juga pantas
untuk merasakan bahagia.


Komentar
Posting Komentar