Patah Hati (2)



PATAH HATI (2)

Harusnya aku yang disana
Dampingimu dan bukan dia
Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia
                                    (Armada-Harusnya Aku)

Lelaki berusia 22 tahun itu sedang duduk di balkon lantai dua rumahnya dengan memegang sebuah gitar. Sudah satu jam dia memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu-lagu patah hati. Lagu Armada-Harusnya aku itu menjadi lagu favorit yang setidaknya sudah diulanginya tiga kali. Beberapa kali ada air mata yang menetes dari matanya. Beberapa kali pula, ada amarah yang tampak dari wajahnya.
Namanya Ahmad. Dia memang sedang patah hati.
Seminggu yang lalu, perempuan yang diidam-idamkannya, yang dicintainya selama tujuh tahun belakangan telah menikah dan bukan dia yang menemani perempuan itu di pelaminan. Ahmad marah, dia marah karena ia merasa punya hak untuk marah. Bukan tanpa sebab, tujuh tahun yang lalu dia dan perempuan itu sudah berjanji untuk saling menunggu setidaknya hingga usia 25 tahun. Ahmad baru saja selasai kuliah sarjana, dia belum mapan dengan pekerjaannya dan Yasmine-nama perempuan itu- malah menikah dan meninggalkannya.
Dalam setiap petikan gitar yang dimainkannya hari itu, Ahmad terbayang-bayang kisah masa lalu antara dirinya dan Yasmine. Perjalanan cinta mereka yang seumur jagung, memutuskan untuk berpacaran secara sembunyi, putus dan berjanji untuk saling menunggu terus berkelebat dalam ingatan Ahmad sembari petikan gitar yang kian getir.
“Aku berjanji dan berusaha untuk tidak menikah dengan siapapun selain kau. Dan tunggulah aku. Setidaknya hingga umurmu 25 tahun. Jika aku tak kunjung datang hingga saat itu, kau boleh menikah dengan siapapun yang kau mau. Bagaimana, Yas?”
Ahmad mencoba untuk mengingat kalimat yang disampaikan Yasmine setelah ia mengucapkan kalimat itu, namun dia kesulitan untuk mengingatnya. Dia sebenarnya ingin menuliskan kalimat percakapan itu di media sosial dan menarik minat orang lain untuk turut menghakimi Yasmine seperti dia yang sedang mengkahimi Yasmne saat ini. Tapi memang dia tidak bisa mengingat dengan pasti kalimat yang disampaikan Yasmine untuk menjawab kalimatnya di hari perpisahan mereka itu.
Gitar tua yang selama ini disimpan di atas lemari sekitar hampir delapan tahun itu akhirnya menjadi teman satu-satunya yang menemani Ahmad dalam patah hatinya malam ini. Padahal, sejak ia bergabung dengan organisasi Rohis sekolah delapan tahun yang lalu, Ahmad sudah tak pernah bermain gitar lagi. Bukan karena ia berpinsip bahwa alat musik itu haram. Namun menurutnya, tidak cukup waktu untuk bermain musik sedangkan agenda-agenda dakwah yang begitu banyak setiap harinya.
“Assalamualaikum”
Sebuah suara menghentikan petikan gitar Ahmad. Ahmad menoleh ke asal suara, itu masih orang yang sama. Orang yang sama yang sudah tiga hari berturut-turut mengunjunginya dan menceramahinya. Lelaki itu Ali Imran. Teman yang membersamai Ahmad selama delapan tahun perjalanan dakwah mereka.
“Ngapain lagi kau, Li?”
“Aku masih tak melihatmu di masjid sejak subuh hingga isya tadi.”
“Itu bukan urusanmu lah, Li.”
“Bagaimana tidak menjadi urusanku, Mad? Kita sudah bersama selama delapan tahun, selalu mengisi masjid komplek ini bersama. Bedakwah bersama. Membuat kegiatan-kegaitan pembinaan untuk remaja-remaja dan anak-anak sekolah. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu seperti ini.”
“Lantas, kau mau apa? Kau mau berbuat apa? Kau mau aku lakukan apa?”
“Aku mau kau sudahi ini semua. Kembali menjadi Ahmad yang sebelumnya dan berjuang kembali untuk dakwah. Begitu banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan. Dua bulan lagi kita sudah masuk bulan Ramadan dan agenda yang telah kita rancang itu perlu untuk di kerjakan.”
“Kerjakan sendiri, kau bisa mengajak anak pindahan dari Ibukota itu. Suami si Yasmine itu kau jadikan sebagai tandem barumu. Aku sudah tidak mau lagi.”
“Tapi Mad. Kita yang merancang ini semua kan?”
“Dan Allah yang telah merancang hancurnya perasaanku ini, Li.”
Astagfirullah Alazim.”
Suasana hening. Ada sedikit rasa bersalah di dalam hati Ahmad menyadari bahwa ucapannya yang berusan itu sudah cukup kelewatan. Ali menatap wajah temannya itu. Wajahnya yang sebelumnya tampak bersahabat kini tampak mulai marah.
“Jadi, kau sudah dipanggil televisi karena viralmu itu?”
“Apa maksudmu?”
“Bukankah kau ingin viral, menyanyi lagu harusnya aku di pernikahan Yasmine sambil menangis dan dilihat oleh semua orang?”
“Jaga bicaramu, Ali.”
“Mengapa kau marah? Bukankah niatmu berdakwah selama ini juga bukan karena niat tulus melainkan agar Yasmine tetap berada dalam radar perhatianmu.”
“Daripada aku memukulmu lebih baik kau pergi dari sini!”
“Kau pikir kau bisa mengusirku? Ini bukan rumahmu anak muda. Ini rumah Ayahmu dan tadi ayahmu sudah memberikan izin untukku masuk ke dalam rumah ini dan bahkan memintaku untuk tidur disini malam ini agar bisa membawamu berjamaah di masjid subuh esok.”
“Tapi ini kamarku.”
“Kau memalukan sekali, tukang klaim. Beberapa hari yang lalu kau mengklaim bahwa Yasmine hanya pantas untuk kau dan sekarang kau mengklaim bahwa ini merupakan kamarmu. Kau tidak tau bahwa Yasmine adalah wanita merdeka yang boleh menentukan dengan siapa dia menikah dan kamar ini jelas adalah bagian dari rumah besar ayahmu yang membuatnya otomatis menjadi kamar milik ayahmu yang dipinjamkan kepadamu. Lelaki fakir miskin yang diberi tempat tinggal.”
“Huh.. Aku kenal kau Ali. Setelah beberapa hari ini cara persuasif tidak mempan kepadaku. Kini kau mencoba memanas-manasiku. Sudahlah kawan. Kau pulang saja, aku sedang ingin menikmati malam-malamku.”
“Aku akan pulang, tenang saja. Aku tidak tertarik tidur dengan pesakitan yang sedang sakit jiwa sepertimu.”
“Aku tidak sedang sakit jiwa Ali. Aku sedang patah hati.”
“Karena hidupmu hanya berharap pada manusia, bukan pada Allah.”
“Kau tau sendiri, kau hadir disitu Ali. Yasmine berjanji padaku untuk menunggu.”
“Tidak, dia tidak mengatakan apapun!”
“Apa maskudmu.”
“Aku ingat Yasmine hanya bilang bagaimana kalau Allah berkehendak lain. Dan kau waktu itu jawab dengan sok perkasa sekali. Kalau Allah sudah berkata lain, kita manusia bisa apa? Dan lihat kau hari ini, kawan? Lihat kau yang menjadi gila padahal seharusnya kau tau ini semua adalah kehendak dari Allah. Bukankah kau bilang jika Allah berkehendak, kita manusia bisa apa?
“Tapi dia belum 25 tahun Ali. Usaha menuju ke perjanjian itu belum maksimal dilakukan.”
‘Karena dia tidak pernah menerima janji mu yang salah itu, Ahmad. Setelah kau sok tegar berkata bahwa kita tidak bisa melakukan apapun jika Allah sudah berkehendak. Yasmine hanya tertunduk dan berkata dengan sangat pelan. Kau seharunya ingat kalimat itu. Dia berkata pelan tapi sangat tegas. Dia bilang “Kalau begitu apa artinya kita saling menunggu?
“Dan kau yang terlalu yakin bahwa Yasmine akan mencintaimu selamanya dengan sangat percaya diri menutup percakapan itu dengan keputusan sepihak lantas berkata “Tenanglah, aku akan menempuh jalan seterjal apapun untuk menjeputmu.” Dan yang coba kau lupakan dari itu semua adalah bahwa Yasmine tidak pernah mengatakan apapun setelah kalimat sok jagomu itu. Dia tidak pernah menyepakati janji palsu yang sedang kau buat itu, Ahmad.
“Kau bohong.”
“Kau yang tidak berani mengakui bahwa Yasmine memang tidak pernah sepakat untuk saling menunggu, kawan.”
“Kau pembohong!”
“Tiidak Ahmad. Tidak. Kau pasti tau sendiri, Yasmine tidak mengatakannya dan dia memilih move on. Bangkit dari keterpurukan atas cinta yang salah itu. Bertaubat, memperbaiki diri, belajar agama lebih banyak, menghafal alquran lebih banyak. Lantas menjadi wanita solehah yang hanya pantas untuk lelaki soleh. Dia bertemu dengan lelaki soleh itu. Teman kita satu kampus, orang yang berjuang sejak semester satu untuk menjadi mapan. Bekerja kesana-kemari untuk meneruskan kuliahnya. Kesuksesan diraihnya ketika masih disemester lima. Hafal Alquran, selalu menjaga pandanganya. Dia memang pantas sekali dengan Yasmine yang juga menjaga pandangannya. Kau tidak pantas kawan, kau yang hijrah hanya karena agar tetap dapat melihat Yasmine tidak sepadan dengan Yasmine ataupun dengan suaminya itu. Tidak sepadan.”
“Diam Ali! Dan tinggalkan aku sendiri, pergi kau dari kamarku!”
“Hey Ahmad. Lihatlah dirimu yang sudah gila ini. Kau merasa harusnya kau yang menjadi pendamping Yasmine. Tapi lihatlah dirimu, yang rapuh hanya karena urusan seremeh-temeh ini? tidak mungkin, tidak mungkin kau pantas untuk Yasmin yang sejak putus denganmu itu telah menjadi bunga mekar dengan ketaatannnya. Sedangkan kau, sejak putus itu tidak pernah bergerak dari tempat itu. Hanya Yasmine dan Yasmine. Itu tidak mungkin Ahmad, jauh sekali kalau kau merasa bahwa kaulah yang pantas untuk Yasmine.”
“Diam kau Ali!”
“Aku tidak akan pernah diam. Sudahlah Ahmad, dengarkan aku! Aku ingin sampaikan sebuah pesan. Kau mau mendengarkannya dengan hati yang lapang sebentar saja?
“Aku mencoba untuk menjelaskan ini semua dengan angka agar lebih mudah dimengerti. Tapi sejatinya, apa yang akan ku sampaikan ini tidak lah dapat ditafsirkan demikian. Kau temanku, aku juga menjadi sakit hati melihat kau menjadi seperti ini karena hal sepele ini, Ahmad.
“Kau tau sendiri, Allah segala penentu keputusan. Kita hanya perlu bersyukur atas segala nikmat yang diberikanNya dan senantiasa bersabar atas cobaan yang datang dengan ujianNya. Ahmad, kau tau sendiri. Tidak ada rencana manusia yang lebih baik dari rencana Allah. Untuk urusan mu dengan Yasmine, seharusnya kau bersyukur karena Allah masih memberikan kesempatan kepadamu untuk sabar dan berubah.
“Kau yang selama ini memendam rasa kepada Yasmine, berbuat untuk Yasmine, dan melakukan semua pekerjaan dakwah hanya untuk dapat dilihat oleh Yasmine saatnya memperbaharui niat dan bangkit. Jadikan semua kerja-kerjamu hanya untuk Allah saja. Ahmad, jika Yasmine adalah angka 10, saat ini bisa jadi kau hanya berada di angka 2. Itu membuat kau tidak pantas mendapatkannya.

“Atau Ahmad, sesungguhnya engkau sudah berada di tingkat 20. Lalu Allah memberikan ujian kepadamu agar naik tingkat dengan pernikahan Yasmine. Jika saja kau berhasil melewati ujian ini, kau mungkin akan naik tingkat dan Allah sudah siapkan perempuan yang jauh lebh baik daripada Yasmine dan tentu saja setingkat denganmu.
“Tapi sayang, kau benar-benar telah hancur dan gagal dalam ujian ini!”
“Diam kau dan pergi dari kamarku!”
“Ya, aku akan pergi dan tidak akan pernah datang lagi kecuali besok subuh kau kembali berjamaah di masjid seperti kau yang sebelumnya.”
Ali melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Yasmine dan suaminya telah bahagia. Mereka tidak pernah mempedulikan tingkah Ahmad yang menyanyikan lagu Armada sambil menangis di pernikahan mereka. Saat ini, mereka sedang berbulan madu sambil melaksanakan Umroh. Tidak peduli bahwa video Ahmad yang menyanyi dipernikahan mereka itu sedang viral di media sosial.
Ahmad harus bangkit, dia juga harus bahagia. Oleh sebab itu Ali terus berusaha untuk menyadarkan sahabatnya itu. Sebenarnya, Ali tau bahwa Ahmad sudah bisa bangkit dari Yasmine. Ali tau benar bahwa dakwah Ahmad selama ini dilakukan ikhlas hanya untuk ibadah kepada Allah semata. Namun, cobaan ini memang tidak bisa ditolak. Allah sedang mengujinya dengan sesuatu yang paling disenanginya yaitu Yasmine. Namun Ahmad yakin, Ali yang merupakan pejuang dakwah itu juga pantas untuk merasakan bahagia.

Komentar