Berlarih Keledai
Eza Budiono
Tunggu sebentar, kau tenang dulu.
Hentikan sebentar repetanmu yang panjang dan
tak tentu arah itu.
Bukan apa-apa, semakin engkau panjang mencercaku,
Semakin kami yakin,
Besar kebodohanmu yang coba engkau sembunyikan
Dalam ragat-ragat bibirmu.
Tunggu sebentar, kau tenang dulu,
Aku ingin membacakan sebuah puisi untukmu.
Krik-krik, krik-krik
Bersuara jangkrik patah-patah
Saat engkau tersenyum,
Ramah-ramah...
Cak-cak, cak-cak..
Berdecak-decak cicak di dinding,
Tak peduli ia pada nyamuk yang bersuara
nyaring
Saat engkau, mengagguk dengan yakin.
Bodoh!
Padahal kau tau sangat,
Itu semua akan bermuara kepadamu jua
Bodoh!
Padahal kau tau sangat,
Semua itu adalah alasan licik,
Untuk menjatuhkanmu.
Mou.... mou......
Bukankah lembu selalu menjadi persamaan orang
yang malas?
Dan keledai, perumpamaan orang yang bodoh?
Oh, bagaimana kiranya suara keledai?
Siap, Pak. Saya akan selesaikan semua.
Biar saya yang menjadi tameng Bapak?
Oh. Begitukah keledai itu?
Sini, diam sebentar,
Jangan menyosor terus.
Kau keledai, bukan bebek.
Aku sudah bilang bukan,
Semakin kau mengeluarkan kalimat
Semakin tampak bodohmu,
Semakin tampak bahwa engkau sedang bersembunyi
Dibalik ketidakmampuan dan ketidakpahamanmu.
Seandainya,
Engkau lebih bijaksana, untuk mengatakan tidak
Tapi aku tau,
Kau Ibu dari segala kehambaan
Kau ratu dari para penjilat kekuasaan
Apa?
Sekarang kau bawa-bawa Tuhan?
dalam semua dosa,
yang telah engkau sajikan?
Sini, tunggu sebentar.
Aku ingin berbisik
Bukankah kau,
Adalah keledai yang tak tau diri?
Berlarilah keledai,
Tinggalkan hingar bingar ini.
Kau, tidak akan paham untuk mengenali lobang
yang sama
Berlarilah keledai,
Caramu untuk tidak jatuh di lobang yang sama
itu
Hanya dengan cara,
Mencari tempat baru yang rata
Dan tak punya lobang untuk menyambutmu.
Bukankah demikian? Turutilah!
Turunlah!
Itu jika engkau,
Masih keledai muda

Komentar
Posting Komentar