Cinta tidak sebodoh itu, Dewi


Cinta tidak sebodoh itu, Dewi





“Sudahlah Dewi, aku tak mungkin bisa menikahimu!”

“Mudah sekali kau berkata tidak mungkin, setelah apa yang kau lakukan padaku Rudi?”

“Kau belum pernah ku apa-apakah, dewi. Menciummu pun tak pernah.”

“Tapi kau sudah membuatku jatuh cinta,”

Rudi menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Pohon karet milik Pak Harun menjadi saksi pertengkaran mereka. Perkebanunan itu luas, Rudi yang sedang bekerja mengambil getah karet milik Pak Harun terpaksa mengikut ketika Dewi menariknya ke tempat yang sepi. 

“Salahmu sendiri, kenapa mesti kuliah dan jadi sarjana!”

“Kurang ajar. Kau menyalahkanku?”

“Bukan begitu maksudku Wi, aku ini orang miskin, keluargaku tujuh turunan juga miskin. Kemana aku mencari uang tiga puluh juta yang diminta oleh orang tuamu sebagai syarat menikahimu itu? Aku tidak punya uang sebanyak itu, Wi.”

“Kita kawin lari!”

“Ah. Gila, bisa-bisa pamanmu yang polisi itu memasukkan ku ke dalam penjara!”

“Kau pengecut, seharusnya sejak awal kau tidak usah mendekatiku. Seharusnya sejak awal kau tidak usah buat aku mencintaimu, seharusnya sejak awal kau tidak usah hadir dalam hidupku. Setelah aku jatuh cinta padamu, setelah aku tidak mau memandang lelaki lain selain kau. Kau malah dengan enteng mengatakan urusan ini selesai begitu saja?”

“Ayolah Wi, aku tidak pernah menyentuhmu. Kau belum ku apa-apakan!”

“Tapi kau mengambil cintaku, kau pikir apa yang dimiliki seorang perempuan selain cinta?”

Rudi menghela napas lagi, kali ini dia tidak lagi berani menatap Dewi yang sudah menangis berlinang air mata. Perkara ini memuncak ketika Dewi berhasil menyelesaikan gelar sarjananya sekitar enam bulan yang lalu. Rudi yang sangat percaya diri datang meminang Dewi yang sudah menjadi kekasihnya sejak kelas tiga SMA. Orang tua Dewi menerima Rudi dengan sangat baik. Tapi naas, gelar sarjana yang dimiliki oleh Dewi membuat kedua orang tuanya jemawa. Harga pinangan untuk Dewi naik karena dia satu-satunya perempuan sarjana di desa itu.

Tiga puluh juta adalah angka yang sangat besar untuk buruh penyadap karet. Apalagi untuk Rudi yang juga harus menghidupi seorang ibu dan tiga orang adik perempuannya. Tapi begitupun, ketika syarat tiga puluh juta rupiah itu disampaikan oleh orang tua Dewi, Rudi tetap menyanggupi dengan firasat bahwa Tuhan akan menolongnya. Bukankah Tuhan telah berjanji untuk membantu orang-orang seperti dia?

Tapi enam bulan waktu berjalan, jangankan tiga puluh juta. Uang sepuluh juta yang sudah dikumpulkan Rudi sebelumnya pun malah berkurang. Ibunya sakit dan harus dibawa kerumah sakit dengan biaya yang cukup besar. Patah arang, Rudi memutuskan hubungannya dengan Dewi secara sepihak.

“Ini salah pemerintah, seharusnya dia tidak membuat program beasiswa untuk kuliah itu. Sehingga kau tidak perlu menjadi sarjana. Lihatlah, apa yang kau kerjakan dengan gelar sarjanamu itu? Hanya menjadi guru. Bodoh sekali kalau menjadi guru harus sarjana.”

“Rudi, bukankah kau mendukung ketika aku mengembil beasiswa itu….”

“Iya, iya, sudahlah Dewi. Kita sudahi saja ini. Aku tidak sungguh-sungguh menyalahkan pemerintah. Aku tidak akan menang berdebat denganmu. Selain kau itu perempuan, kau juga sarjana. Mana mungkin aku bisa menang.”

Kali ini Rudi berbicara sambil melangkah meninggalkan Dewi yang mematung. Dia bermaksud untuk melanjutkan pekerjaannya. Bisa tambah runyam jika Pak Harun menyadari bahwa dia tidak bekerja dengan baik. Mau makan apa Ibu dan adik-adiknya?

Tapi langkah kaki Rudi terhenti ketika Dewi malah terduduk di atas rumput sambil bersandar pada pohon karet. Menutup matanya lalu menangis dengan isak yang begitu meyedihkan. 

“Hei Dewi, jangan duduk disitu dengan rok kembang seperti itu. Apa dikampusmu tidak diajarkan bahwa rumput-rumput itu menyembunyikan banyak binatang-binatang kecil?”

Tangis Dewi semakin menjadi. Lelaki bodoh seperti inilah yang dicintainya.

“Sudahlah Dewi, Aku tidak cukup perkasa untuk membahagiakanmu. Aku tidak punya cukup uang untuk mengambilmu dari orang tua mu. Kita mungkin memang tidak berjodoh…”

“Hamili aku, Rudi. Jika aku hamil, ibu dan ayahku pasti akan menikahkan kita!”

Rudi terdiam mendengar kalimat dari Dewi yang dipenuhi dengan isak tangis. Tangannya kini sudah memanga erat tangan Rudi yang kembali datang mendekatinya yang terduduk di rumput diantara pohon karet. 

“Kau bilang apa?”

“Hamili aku!”

Rudi melepaskan tangan, mundur kemudian berbalik lantas berlari meninggal Dewi. 

“Cinta tidak sebodoh itu Dewi!”


Komentar